Oleh : Maiyasa

20 11 2007

 PENDIDIKAN DI ETOPIA

Pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Itulah kalimat yang sering dicetuskan para “petinggi” di pemerintahan, tersirat pula dalam alenia keempat yang menjadi salah satu tujuan yang ingin dicapai negara Indonesia. Tentunya prakteknya tidak semudah teorinya,karena kenyataannya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum bisa mengecap manisnya pendidikan. Kendala yang dirasakan menjadi beban bagi orangtua adalah biaya pendidikan. Biaya pendidikan dirasakan setiap tahun semakin mahal. Sebelum masuk sekolah anak-anak akan dibebankan biaya pendaftaran yang berkisar dari ratusan ribu rupiah bahkan hingga jutaan rupiah. Selama mengikuti pendidikan, orangtua siswa diwajibkan membayar iuran SPP, sumbangan dan pungutan yang sifatnya tidak terlalu mendesak. Misalnya, uang les dan uang perpisahan bagi anak-anak.
Untuk uang perpisahan, dipungut sebelum anak-anak yang tengah duduk di kelas tiga melakukan ujian kelulusan. Ini berarti menambah beban lagi bagi anak-anak yang kurang mampu, lebih ironis lagi bagi anak-anak yang ternyata tidak lulus, sudah barang tentu, mereka tidak mengikuti perpisahan dengan teman-teman maupun para guru. Bagaimana dengan uang yang mereka bayar untuk perpisahan?
Kendala lain yang menarik adalah kualitas sekolah-sekolah itu, di tengah mahalnya biaya pendidikan. Pertanyaannya adalah:”Apakah biaya yang dikeluarkan orangtua murid sepadan dengan kualitas sekolah?” Kiranya tergantung dari sudutpandang masing-masing orang yang menilai. Bagi orangtua murid pastinya menginginkan sekolah dengan biaya yang terjangkau, sedangkan para guru dan instansi sekolah tentunya beranggapan untuk meningkatkan kualitas sekolah diperlukan biaya yang mahal. Uang itu untuk melengkapi fasilitas sekolah seperti;komputer, ataupun memasang AC di ruang kelas untuk menciptakan kenyamanan sehingga suasana belajar lebih kondusif.
Kendala yang lain adalah kita berada di negara Indonesia. Negara yang tingkat kemakmurannya rendah. Banyak terjadi korupsi di mana-mana. Bagaimana mungkin kita dapat memiliki pendidikan gratis dengan yang berkualitas bagus, sedangkan untuk pembangunan saja masih memiliki hutang yang banyak. Seandainya saja kita tinggal di pulau Utopia, dimana semua orang tinggal berdampingan dengan damai, kehidupan ekonomi yang bagus, tidak ada kesenjangan dan perbedaan antara si miskin dan si kaya, semua dapat sekolah, dan orangtua murid tidak dibebani lagi dengan mahalnya pendidikan. Anak-anak dari orang tua yang kurang mampu tidak perlu merasa “minder” dengan anak-anak lainnya. Semua mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang bagus. Meskipun, Utopia hanya sebuah khayalan, tetapi dapat dijadikan cerminan dari keinginan sebagian besar penduduk Indonesia. Mudah-mudahan negara Indonesia dapat terbebas dari belenggu kemiskinan dan dapat meningkatkan kualitas pendidikannya serta dapat mewujudkan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangs





Buku Tamu

20 11 2007




KESIMPULAN

20 11 2007


Banjarmasin merupakan Bandar yang sangat strategis dan potensial hal ini menarik hati para pedagang-pedagang dari luar salah satunya adalahpedagang Arab dengan berbagailatar belakang dantujuan mereka datang dan akhirnya menetap memberi warna dalam kehidupan banjarmasin dan nafas baru yaitu Islam.

 

 

etode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan pengumpulan data dan wawancara.





Hello world!

11 09 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!